• Phone: 087887551055
  • E-mail: contact@integritas.id

Your Trusted Psychological Partner
  • Home
  • Konseling Online
  • Jenis Layanan
  • Profil Konsultan
  • Tentang Kami
  • Artikel

Resonansi Lailatul Qadar di Ruang Keluarga Kita

Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si*

Banyak orang menganggap Lailatul Qadar sebagai momen pencarian spiritual di pojok-pojok masjid. Kita mengejar itikaf, memperpanjang sujud, dan menenggelamkan diri dalam lantunan ayat suci demi meraih kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Namun, spiritualitas Islam yang sebenarnya bukan hanya soal beribadah di masjid saja. Ada sebuah resonansi (getaran energi) yang seharusnya merambat keluar dari pintu masjid dan masuk ke dalam celah-celah pintu rumah, menyentuh ruang keluarga tempat kita kembali.

Dari sisi psikologi, seseorang yang punya pengalaman spiritual di masjid akan membantu dirinya untuk hadir lebih “fresh”. Saat seseorang merasakan ketenangan (thuma’ninah) di malam Qadar, otak melepaskan hormon endorfin dan oksitosin yang menurunkan level kortisol (stres). Secara teknis, individu tersebut sedang melakukan regulasi emosi di tingkat tertinggi. Akan tetapi, regulasi emosi yang sebenarnya bukanlah saat kita sendirian. Ujian akan terasa ketika sudah di rumah, saat menghadapi anak-anak yang sedang menangis, atau kita sedang berkonflik dengan pasangan.

Dalam Islam, ibadah yang diterima akan ditandai dengan perubahan akhlak seseorang menjadi lebih baik. Jika Lailatul Qadar adalah malam turunnya para malaikat yang membawa kedamaian (salam), maka resonansi malam itu seharusnya mengubah nada bicara kita di meja makan menjadi lebih lembut. Kedamaian yang kita jemput di masjid harus bertransformasi menjadi kerahiman di ruang keluarga. Keluarga yang mendapatkan resonansi malam Qadar akan merasakan atmosfer rumah yang lebih “sejuk” secara emosional, ada kelapangan dada untuk memaafkan dan ada keinginan untuk saling mendukung dalam kebaikan.

Sinergi antara spiritualitas dan psikologi ini menciptakan apa yang disebut sebagai Emotional Intelligence (kecerdasan emosional) berbasis iman. Kita tidak hanya membawa pulang kantuk setelah begadang beribadah, tetapi juga membawa pulang cahaya. Anak-anak yang melihat orang tuanya pulang dari masjid dengan wajah ceria dan ucapan yang baik akan merasa bahwa agama bukan cuma aturan, tapi juga sumber ketenangan.

Inilah hakikat dari Lailatul Qadar yang bukan sekadar angka 1.000 bulan dalam hitungan matematis, melainkan juga tentang kualitas transformasi. Jika doa di masjid bisa membuat kita lebih sayang kepada pasangan dan anak, mungkin itu salah satu tanda Lailatul Qadar sudah “turun” ke rumah kita. Mari kita pastikan bahwa kesalehan yang kita jemput di masjid tidak tertinggal di gerbangnya, melainkan ikut masuk dan menetap di ruang keluarga. -Selesai-

*Penulis adalah Konsultan Keluarga & Pasangan

Previous

Artikel

  • Resonansi Lailatul Qadar di Ruang Keluarga Kita
  • Ramadhan Momentum Membentuk Keluarga “Ahlul Qur’an”
  • Rapuhnya Kesehatan Mental Keluarga dan Tanggung Jawab Kolektif Bangsa
«
Prev
1
/
47
Next
»
loading
play
SOS (Sesi Online Sharing) Spesial Hari Ayah
play
Boleh Cemburu???
«
Prev
1
/
47
Next
»
loading
VMS Technology
WhatsApp us