• Phone: 087887551055
  • E-mail: contact@integritas.id

Your Trusted Psychological Partner
  • Home
  • Konseling Online
  • Jenis Layanan
  • Profil Konsultan
  • Tentang Kami
  • Artikel

Resolusi Terpenting Bernama Keluarga

Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si*

Pergantian tahun sering diiringi dengan daftar resolusi: ingin lebih sukses, lebih sehat, atau lebih produktif. Namun, di antara semua target itu, ada satu resolusi yang sering terlupakan, padahal justru paling menentukan kualitas hidup kita yakni keluarga.

Dari sudut pandang psikologi, keluarga adalah secure base, tempat seseorang merasa aman, diterima, dan dipahami. Penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental, ketahanan stres, bahkan kebahagiaan jangka panjang seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas relasi dalam keluarga. Sebanyak apa pun pencapaian di luar rumah, jika hubungan keluarga rapuh, kelelahan emosional akan tetap mengikuti. Sebaliknya, keluarga yang hangat tidak meniadakan masalah, tetapi membuat masalah terasa lebih ringan karena dihadapi bersama.

Sayangnya banyak keluarga terjebak dalam rutinitas tanpa kehadiran emosional. Satu rumah, tetapi jarang benar-benar bertemu. Satu meja makan, tetapi masing-masing sibuk dengan gadget. Maka resolusi keluarga bukan sekadar lebih sering bersama, melainkan lebih hadir, mendengar tanpa menghakimi, berbicara tanpa melukai, dan bekerja sama tanpa saling meniadakan.

Islam memandang keluarga sebagai amanah besar. Tujuan pernikahan bukan hanya kebersamaan fisik, tetapi menghadirkan sakinah (ketenangan jiwa), yang tumbuh melalui mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). Surat Ar Rum ayat 21 menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan para istri untuk kaum laki-laki, agar jiwa menjadi tenang dan damai kepadanya, pun sebaliknya. Sehingga sejatinya pasangan dan keluarga adalah tempat pulang untuk melepas penat dunia, bukan justru menjadi sumber kelelahan baru.

Rasulullah Muhammad SAW pun menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya. Artinya, kualitas iman dan akhlak tidak hanya diuji di ruang publik, tetapi justru di ruang paling privat yakni di rumah. Cara kita bersabar, memaafkan, dan berempati kepada keluarga adalah cerminan kedewasaan spiritual dan emosional.

Karena itu, di awal tahun ini, mungkin kita tidak perlu resolusi yang rumit. Cukup satu yang paling mendasar, menjadikan keluarga sebagai prioritas. Meluangkan waktu tanpa distraksi (gangguan), membangun komunikasi yang jujur, dan memperbaiki diri sebelum menuntut orang lain berubah.

Sebab pada akhirnya, resolusi terpenting bukan tentang apa yang kita capai, tetapi siapa yang tetap berjalan bersama kita hingga akhir. Dan sering kali, merekalah keluarga yang menunggu di rumah.

*Penulis merupakan Psikolog serta Konsultan Keluarga dan Pasangan

Previous
Next

Artikel

  • Icefish And The Chuck Norris Effect
  • Da Para Apostar Na Mega Da Virada Online
  • How Does Social Media Affect Our Notion Of Reality Essay2023-05-28
«
Prev
1
/
47
Next
»
loading
play
SOS (Sesi Online Sharing) Spesial Hari Ayah
play
Boleh Cemburu???
«
Prev
1
/
47
Next
»
loading
VMS Technology
WhatsApp us