Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si (Konsultan Senior Integritas Psychology Center)
Hari Keluarga Nasional (Harganas) seharusnya menjadi momen peringatan kebersamaan keluarga. Sebuah hari yang seharusnya menampilkan keluarga utuh, tawa yang riuh, dan kasih sayang melimpah. Namun ketika tema Harganas 2026 adalah “Ayah Wajib Hadir”, sebuah pertanyaan muncul: akankah seperti yang sudah-sudah, Harganas hanya menjadi seremonial tanpa kehadiran ayah? Di tengah label fatherless country yang sering disematkan untuk negeri ini, kita menyaksikan ayah yang ada secara fisik dan administratif, namun tidak hadir dalam ruang tumbuh anak‑anaknya. Ayah sering terjebak menjadi figur asing yang selalu sibuk mencari nafkah, bergerak di balik bayang‑bayang kesibukan sebagai pencari nafkah.
Jika dilihat dari sudut pandang psikologi perkembangan, kehilangan kedekatan emosional dengan ayah sering meninggalkan luka pengasuhan yang dalam pada psikologis anak. Karena ternyata peran ayah tidak dapat digantikan hanya dengan memenuhi kebutuhan materi. Anak butuh kehadiran ayah dalam tiga dimensi: interaksi langsung yang hangat (engagement), tanggung jawab mendampingi (responsibility), dan ketersediaan waktu serta emosi saat anak membutuhkan (accessibility).
Ketika 3 dimensi tersebut tidak terpenuhi, anak kehilangan cara utama dalam belajar mengatur emosi dan membangun rasa percaya diri. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan rasa “lapar figur ayah” (father hunger) lebih rentan mengalami kecemasan. Anak juga sulit beradaptasi dan kehilangan daya bangkit (resilience) saat tekanan hidup muncul. Dari hal inilah kita sadar bahwa ayah bukan hanya ban serep dalam pengasuhan. Sentuhan, ketegasan, dan cara ayah memandang dunia adalah stimulus unik yang membentuk karakter anak menjadi lebih tangguh.
Menariknya, sudut pandang psikologi ini sejalan dengan tuntunan yang sangat indah dalam Islam. Jika kita membuka lembaran Al Qur’an, narasi besar tentang pengasuhan justru sering kali diabadikan melalui percakapan mendalam antara ayah dan anak. Bagaimana Luqman Al Hakim membimbing anaknya dengan penuh hikmah, kedekatan penuh takzim antara Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, sampai kisah Nabi Ya’qub AS yang berperan menjadi tempat curhat yang aman dan nyaman bagi putra tercintanya Nabi Yusuf AS. Ayat-ayat ini menjadi tamparan halus bagi kita semua, bahwa Islam tidak pernah memosisikan ayah sebatas “Anjungan Tunai Mandiri (ATM)” berjalan. Tugas utama kepala keluarga adalah menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (Q.S. At Tahrim: 6). Sebuah misi spiritual yang mustahil terwujud tanpa adanya dialog iman, keteladanan, dan sentuhan batin yang konsisten. Ketika seorang ayah memutus komunikasi emosional dengan buah hatinya, ia tidak hanya sedang mengabaikan peran psikologisnya, tetapi juga sedang melonggarkan amanah teologis yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Oleh karena itu, menjadikan momentum Hari Keluarga Nasional sekadar sebagai perayaan tahunan tentu akan terasa sangat hambar. Di tengah realitas fatherless saat ini, Harganas harus menjadi momentum bagi setiap laki-laki yang berstatus sebagai ayah. Pelukan hangat setelah seharian lelah bekerja, tatapan mata yang tetap fokus mendengarkan cerita anak, atau kesediaan bermain bersama di akhir pekan, semua itu memiliki nilai pengasuhan yang jauh lebih mewah daripada fasilitas materi apa pun. Sehingga memadukan pemahaman psikologi keluarga dengan nilai-nilai spiritual Islam adalah kunci untuk memutus rantai yang saat ini tengah kehilangan arah akibat absennya figur ayah. Sejatinya, pengasuhan anak adalah proyek peradaban jangka panjang, sebuah kerja tim yang sinergis antara ayah dan ibu.
Kita semua tentu tidak berharap rumah-rumah yang ada saat ini dihuni oleh anak-anak yang “yatim” sebelum waktunya. Bukan karena ayahnya telah tiada di liang lahat, melainkan karena ayahnya terlalu sibuk untuk hadir dan peduli. Maka, sudah saatnya setiap ayah di Indonesia kembali hadir dengan kesadaran baru. Ayah yang hadir bukan lagi sekadar untuk merebahkan fisik yang lelah dengan menatap layar gawai, melainkan mengerahkan jiwa, perhatian, dan cintanya kepada keluarga. Sebab, hanya dengan kehadiran ayah yang nyata, hangat, dan mengakar, kita baru benar-benar layak merayakan sebuah hari yang bernama Hari Keluarga Nasional.
