Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si (Konsultan Senior Integritas Psychology Center)
Aisyah RA ketika ditanya tentang apa yang biasa dimakan oleh keluarga Rasulullah Muhammad SAW, mengungkapkan bahwa kadang mereka hanya makan kurma dan air, bahkan pernah tidak ada nyala api di dapur mereka selama beberapa bulan karena tidak ada yang dapat dimasak. Kondisi ini terjadi saat Rasulullah Muhammad SAW menjadi pemimpin ummat, manusia yang paling dihormati. Jika saja Rasulullah SAW mau, tentu keluarganya bisa saja hidup dalam kemewahan, namun Rasulullah SAW memilih tidak melakukan hal tersebut.
Yang dilakukan oleh keluarga Rasulullah Muhammad SAW inilah disebut sebagai qonaah, merasa cukup dan ridha terhadap apa yang telah Allah SWT berikan. Qonaah bukanlah anti terhadap keluasan rezeki, bukan pula hidup pasrah tanpa berusaha. Melainkan ketenangan hati saat yang dimiliki sedikit, dan bersyukur serta hati-hati saat yang dimiliki banyak.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa kekayaan yang sejati bukanlah dari banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa. Pesan ini terdengar sederhana, namun jadi demikian menantang ketika di zaman ini tidak sedikit yang terjebak dalam memaknai kesuksesan dan keberhasilan hidup dari sudut pandang materi semata. Tantangan yang ada semakin besar ketika di sosial media dan dunia digital ramai digaungkan kebahagiaan yang ditampilkan dalam bentuk flexing (pamer) rumah baru, liburan ke luar negeri, ataupun kado mahal di momen-momen peringatan.
Sebenarnya tidak ada yang masalah dari rezeki yang lapang, bahkan hal ini sejalan dengan nasihat Rasulullah SAW bahwa tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (menerima). Yang perlu diwaspadai adalah ketika tayangan dunia digital tadi pada akhirnya menjadi tolok ukur, sehingga tidak sedikit keluarga melihat dan menilai dari apa yang tidak dimiliki, bukan dari apa yang sudah ada dan diberikan Allah SWT. Psikologi menyebut hal ini dengan perbandingan sosial (social comparison). Menurut Festinger, di antara arah perbandingan sosial adalah perbandingan ke atas (upward comparison), kepada orang lain yang dianggap lebih unggul atau sukses. Upward comparison dapat memicu motivasi dan inspirasi yang positif. Namun di sisi lain juga tidak jarang berdampak negatif dengan memunculkan inferiority (rasa tidak berguna), iri hati, serta rasa cemas.
Dahulu, perbandingan biasanya dilakukan terbatas pada kerabat dekat atau tetangga. Sekarang, perbandingan dilakukan kepada kehidupan orang lain tanpa batas melalui media sosial, yang justru seringkali merupakan kehidupan seseorang yang sudah diedit dan diberi “kosmetik” sedemikian rupa sebagai konten. Sehingga penelitian menemukan bahwa mereka yang sering membandingkan hidupnya dengan apa yang dilihat pada layar gawai, memiliki hubungan dengan meningkatnya kecemasan dan menurunnya rasa syukur.
Di titik inilah keluarga rentan terdampak. Mulai muncul fenomena anak yang bertanya mengapa rumahnya tidak seperti rumah yang ditampilkan selebgram, istri yang menyoal penghasilan suami (atau sebaliknya) yang tidak sebesar tokoh TikTok tertentu padahal memiliki profesi yang sama. Perlahan tapi pasti, rumah yang seharusnya menjadi tempat keluarga yang paling tenang dan nyaman justru dibuat lelah dengan mengejar standar hidup yang tidak pernah selesai.
Penting untuk dipahami, bahwa meneladani kehidupan qonaah keluarga Rasulullah SAW bukan berarti menolak kemajuan, menjauhi teknologi, atau menghindari kekayaan. Yang perlu diperbarui adalah cara keluarga menyikapi apa yang ada setiap hari. Beberapa hal sederhana bisa mulai dilakukan, dengan membiasakan bersyukur atas hal-hal kecil di rumah sebelum membandingkannya dengan rumah orang lain, berdialog dengan anak tentang apa yang mereka tonton, dan mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang tampil di gawai mengenai kehidupan orang lain sering kali bukanlah tampilan yang sesungguhnya.
Momentum Maulid Nabi SAW menjadi pengingat yang tepat bahwa keteladanan terbesar justru datang dari kesederhanaan, bukan dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Keluarga yang paling mulia dalam sejarah Islam justru hidup dengan sangat sederhana, namun meninggalkan warisan gambaran keluarga paling bahagia yang bertahan lebih dari empat belas abad.
