Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si
(Konsultan Senior Integritas Psychology Center)
Membangun keluarga yang berkualitas dan bertaqwa tidaklah mudah di zaman sekarang. Godaan di luar rumah, tekanan ekonomi, dan urusan mendidik anak tidak jarang membuat pusing. Di sinilah pentingnya melakukan gerakan perubahan besar dalam keluarga, yang disebut hijrah. Hijrah dalam hal ini bukan berarti pindah rumah atau tempat tinggal. Hijrah berarti meninggalkan kebiasaan lama yang buruk, menjalani hidup baru yang lebih sehat secara lahir dan batin, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Ajaran Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah ladang ibadah paling lama. Maka penting untuk menjaga keluarga supaya tetap di jalan yang benar, sekaligus senantiasa sakinah mawaddah warahmah. Hal ini dapat dilakukan dengan hal‑hal kecil di rumah: shalat berjamaah bersama pasangan dan anak‑anak, mengaji setelah magrib, atau sekadar berdoa sebelum melakukan apa pun. Ketika seluruh anggota keluarga melibatkan Allah dalam setiap urusan, suasana rumah terasa lebih tenang dan nyaman. Sehingga saat masalah datang, tidak ada kepanikan berlebih dan tidak saling menyalahkan. Justru akan muncul kesadaran bahwa semua ujian hidup memiliki jalan keluar jika meminta pertolongan‑Nya.
Namun, urusan agama harus sejalan dengan cara kita memperlakukan keluarga setiap hari. Menurut psikologi, rasa nyaman di dalam rumah sangat memengaruhi kebahagiaan keluarga. Bayangkan jika ada yang ibadahnya aktif, namun suami istri selalu bertengkar dengan kata kasar, atau orang tua yang sering membentak anak. Jelas anggota keluarga tidak betah di rumah. Hijrah sejati harus menyentuh perilaku, seperti menahan amarah. Termasuk cara berkomunikasi, seperti mendengarkan keluh kesah pasangan atau anak. Jika ada perbedaan pendapat, selesaikan dengan kepala dingin saat suasana hati sudah tenang, bukan ketika emosi meluap. Ibadah yang benar menumbuhkan perilaku baik kepada sesama, terutama keluarga.
Selain memelihara hubungan suami istri, para orang tua juga penting mengasuh dan mendidik anak dengan baik untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Anak meniru apa yang mereka lihat. Mereka tidak hanya mendengar kata‑kata, melainkan memperhatikan tindakan setiap hari. Jika orang tua ingin anak menjadi jujur, santun, dan taat beragama, orang tua harus memberi contoh. Sulit mengharap anak rajin beribadah bila mereka selalu melihat orang tua sibuk urusan duniawi atau bermain telepon genggam sepanjang hari. Selain itu orang tua yang memberi kasih sayang, pelukan, dan perhatian, akan menjadikan anak merasa aman dan dicintai. Sehingga mereka tidak perlu mencari kebahagiaan yang salah di luar rumah.
Hijrah menuju keluarga yang berkualitas dan bertaqwa memang tidaklah mudah. Ia seringkali merupakan perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran ekstra. Karena sejatinya tidak ada keluarga yang sempurna di dunia. Selalu ada kerikil dan ujiannya. Namun, selama seluruh anggota keluarga saling mendukung, memperbaiki diri, menurunkan ego, serta mendekatkan diri kepada Allah, maka rumah akan menjadi tempat bernaung yang paling dirindukan. Insya Allah terwujudnya keluarga berkualitas dan bertaqwa akan melahirkan generasi yang cerdas, generasi yang sukses di dunia sekaligus mulia di hadapan Allah SWT.
