• Phone: 087887551055
  • E-mail: contact@integritas.id

Your Trusted Psychological Partner
  • Home
  • Konseling Online
  • Jenis Layanan
  • Profil Konsultan
  • Tentang Kami
  • Artikel

Rapuhnya Kesehatan Mental Keluarga dan Tanggung Jawab Kolektif Bangsa

Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si*

Peristiwa anak usia SD di NTT yang mengakhiri hidupnya karena ketiadaan buku dan pena adalah sebuah potret pilu yang menembus batas ruang kehidupan kita. Kejadian ini bukan sekadar tentang kemiskinan materi, melainkan manifestasi dari krisis kesehatan mental yang nyata. DetikHealth pada 21 Januari 2026 melansir data skrining kesehatan jiwa yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan kepada anak usia sekolah dan remaja, ditemukan sebanyak 363.326 atau 4,8% memiliki gejala depresi.

Dalam psikologi perkembangan, anak usia sekolah dasar berada dalam fase krusial untuk membangun harga diri. Anak rentan mengalami learned helplessness (mentalitas menyerah pada keadaan) ketika merasa tidak mampu memenuhi standar paling dasar. Dalam kacamata ini, buku dan pena bukanlah sekadar benda fisik, melainkan instrumen inklusi yang justru menentukan apakah seorang anak merasa “layak” berada di antara teman-temannya.

Dari lensa psikologi keluarga, tragedi ini sering kali berkaitan dengan fenomena family stress model (model stres keluarga). Tekanan psikologis sering merambat dari orang tua ke anak pada kondisi kemiskinan ekstrim. Pada peristiwa ini, isu kesehatan mental dapat berupa kondisi keluarga yang terjebak dalam mode bertahan hidup karena beban finansial yang menguras energi emosional orang tua. Inilah yang sering menciptakan pengabaian emosional (emotional neglect) yang tidak disengaja oleh orang tua kepada anak, bukan karena kurang kasih sayang, tetapi karena energi orang tua telah habis untuk memikirkan cara bertahan hidup esok hari. Dampaknya, “pengorbanan diam” sering dilakukan oleh anak-anak yang peka. Mereka memendam keinginan yang ada sehingga tidak menambah beban orang tua, yang jika ini terus berlanjut tanpa adanya ruang bicara, dapat berujung pada tindakan fatal.

Dalam perspektif Islam, peristiwa ini menjadi alarm bahwa setiap anak adalah amanah dari Allah. Islam menempatkan ilmu di derajat yang tinggi, namun di sisi lain juga menekankan pentingnya fardu kifayah atau tanggung jawab kolektif. Fakta menunjukkan bahwa di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) masih terdapat kesenjangan akses dan sarana pendidikan, yang seharusnya bisa menjadi fokus utama penyaluran zakat dan filantropi Islam. Tragedi ini mengingatkan bahwa kesalehan sejati bukan hanya nampak di atas sajadah dan di dalam masjid, tapi juga pada kepekaan untuk memastikan tidak ada anak di sekitar kita yang kehilangan harapan hanya karena persoalan biaya dan perlengkapan sekolah.

Terakhir, kita dapat melihat bahwa tragedi ini adalah hasil dari beban sistemik yang terlalu berat. Alih-alih menghakimi, segera bangun jaring pengaman yang lebih kuat sebagai bangsa. Mulai dari memperkuat literasi kesehatan mental keluarga agar kemiskinan tidak lagi berdampak pada kesehatan jiwa anak. Di saat yang sama, pemerintah juga harus mulai memastikan bahwa di masa depan tidak lagi ada harapan yang pupus hanya karena buku dan pena, karena setiap nyawa anak jauh lebih berharga daripada seluruh materi yang ada di dunia ini.

*Penulis adalah konsultan keluarga dan pasangan

Previous
Next

Artikel

  • Icefish And The Chuck Norris Effect
  • Da Para Apostar Na Mega Da Virada Online
  • How Does Social Media Affect Our Notion Of Reality Essay2023-05-28
«
Prev
1
/
47
Next
»
loading
play
SOS (Sesi Online Sharing) Spesial Hari Ayah
play
Boleh Cemburu???
«
Prev
1
/
47
Next
»
loading
VMS Technology
WhatsApp us