Oleh: Triatno Y.P, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si
Harmoni sering disamakan dengan ketenangan di banyak keluarga. Sebuah rumah dalam keluarga yang tenang tanpa perdebatan, dengan anak yang sopan dan taat adalah apa yang kebanyakan orang bayangkan mengenai harmoni. Tentunya menjadi keluarga dengan ketenangan semacam itu merupakan hal yang baik menurut psikologi dan ajaran Islam.
Namun, dalam psikologi keluarga dikenal istilah surface harmony. Yaitu keluarga yang seakan-akan terkesan di luar sangat tenang, tapi sebenarnya banyak masalah dan konflik yang tidak terselesaikan. Ketenangan di sini bukan merupakan akibat dari kedekatan emosional dan pengertian, tetapi merupakan hasil dari tindakan menghindar dari masalah atau konflik.
Dalam keluarga yang mengalami surface harmony, konflik bagaikan bom waktu. Tidak ada tempat yang nyaman dan aman untuk mengeluarkan rasa sedih, kesal, atau kecewa. Karena itulah anak-anak, sejak usia dini, pada akhirnya justru belajar bahwa jauh lebih penting untuk menjaga suasana tetap tenang daripada untuk mengekspresikan perasaannya. Diam menjadi pilihan, bukan karena tidak ada masalah, namun karena ada ketakutan yang sangat besar untuk mengusik “ketenangan” yang rapuh itu.
Dari sudut pandang psikologi, emosi yang ditekan hampir dipastikan tidak akan lenyap. Ia masih ada di sana, mencari cara lain untuk keluar. Jika suatu keluarga gagal memberikan ruang aman bagi anggotanya untuk bicara dan berekspresi, emosi-emosi yang terpendam ini secara alami akan meluap. Dalam beberapa kasus, akan lahir dalam bentuk burnout, kecemasan, penarikan diri, atau ekspresi yang ekstrem karena dorongan yang berlebihan. Pada titik ini, surface harmony justru menjadi risiko besar. Kesehatan mental dapat menjadi sedemikian rapuhnya, terutama pada anak-anak.
Fenomena surface harmony dapat terjadi salah satunya karena nilai kerukunan di Indonesia. Kerukunan tentu positif demi menjada solidaritas keluarga. Namun ketika kerukunan dimaknai sebagai larangan mutlak untuk berbeda pendapat atau mengekspresikan emosi, maka ketenangan pun berubah menjadi beban emosional yang berat. Sehingga yang berhasil dijaga hanyalah tampilan luar, sementara batin sangat mungkin tetap terluka.
Dalam Islam, keluarga adalah tempat menjalin sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sakinah memang berarti ketenangan, tetapi ketenangan yang datang dari rasa aman, keadilan, dan saling pengertian. Ketenangan yang dihadirkan oleh Islam adalah ketenangan yang sejati. Bukan sakinah yang ditekan dari ekspresi emosi, melainkan sakinah dari suatu hubungan yang tulus dan penuh belas kasih.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengajarkan teladan empati dan komunikasi yang penuh perhatian melalui mendengarkan, berusaha memahami perasaan, dan membimbing emosi agar tidak menyakiti. Islam tidak meniadakan emosi, melainkan menuntun agar emosi diekspresikan dengan adab dan tujuan perbaikan (ishlah).
Psikologi juga membedakan antara anak yang sekadar patuh (demi menjaga ketertiban) dan anak yang sehat secara emosional. Kepatuhan bisa membuat rumah tenang, tetapi kesehatan emosional hanya tumbuh ketika anak merasa aman untuk jujur tentang apa yang mereka rasakan. Anak yang sehat adalah anak yang bisa berkata, “Saya tidak nyaman,” tanpa khawatir cintanya akan hilang. Dalam ajaran Islam, menjaga jiwa dan akal anak adalah bagian dari amanah besar orang tua, yang selaras dengan upaya membangun keluarga yang benar-benar sakinah.
Pada akhirnya, keharmonisan keluarga harus tetap menjadikan ketenangan sebagai kondisi yang penting, tetapi tidak dengan mengorbankan kejujuran emosi. Ketenangan yang sehat adalah ketenangan yang hidup dan dinamis, yang diiringi dialog terbuka, empati, dan keberanian untuk saling memperbaiki. Dengan begitu, kondisi keluarga tidak hanya terlihat harmonis di mata orang lain, tetapi juga benar-benar kuat dan menenteramkan dari dalam.