Oleh: Triatno Y.P., M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si (Konsultan Senior Integritas Psychology Center)
Beberapa bencana alam terjadi di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, mulai dari banjir Sumatera, erupsi gunung di Nusa Tenggara Timur, dan terakhir erupsi Gunung Anak Krakatau di Banten. Secara psikologis, bencana dapat mengganggu rasa aman, tidak hanya bagi diri individu tetapi juga semua anggota keluarga yang mungkin dihadapkan pada rasa takut, cemas, dan ketidakpastian. Menghadapi kondisi ini, Islam dan psikologi bertemu pada satu titik untuk menjaga ketenangan jiwa diri dan keluarga melalui penerimaan, ikhtiar, dan saling menguatkan.
Langkah awal merawat psikologis di saat krisis adalah mengakui emosi yang hadir dalam diri dan keluarga. Mengalami rasa takut atau panik saat bencana adalah respon yang wajar. Psikologi mengajar pentingnya regulasi (mengatur) emosi, sehingga diri dan anggota keluarga mampu mengelola kecemasan. Hal ini relevan dengan ajaran Islam untuk menghadapi setiap ujian atau musibah dengan kesabaran, yang merupakan ketahanan mental untuk tetap tenang dan berpikir jernih dengan tetap melakukan ikhtiar untuk melidungi diri dan keluarga.
Ketenangan dalam keluarga salah satunya didapat dengan sikap yang bijak dalam mengambil informasi. Di masa bencana, begitu banyak informasi yang beredar yang tidak jarang justru dapat memicu kecemasan saat dikonsumsi berlebihan. Psikologi menyarankan untuk menghindari overload (kelebihan beban) informasi ini, seraya memeriksa kebenaran setiap informasi sehingga yang terserap merupakan informasi resmi yang tetap dapat menjaga kedamaian dalam keluarga. Islam pun secara tegas mengajarkan prinsip tabayyun—memeriksa kebenaran setiap informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Ikhtiar lain yang penting berikutnya adalah melakukan penyelamatan fisik. Hal ini dilakukan dengan cara mematuhi arahan para ahli dan pihak berwenang, seperti tidak mendekati pusat bencana kecuali pihak yang berkepentingan, memakai masker bagi masyarakat yang terpapar debu vulkanik. Dalam perspektif Islam, ini merupakan bagian dari menjaga amanah jiwa sekaligus tanggung jawab moral. Melakukan langkah preventif bersama akan memberikan rasa keamanan emosional, terutama bagi anak-anak. Ikhtiar ini bisa dilakukan disertai dengan zikir dan berdoa sebagai teknik grounding (penenangan diri) secara spiritual untuk meredakan kepanikan.
Sejatinya rumah dan keluarga harus menjadi benteng terdepan dalam merawat kesehatan jiwa di masa krisis. Saling mendengarkan kekhawatiran satu sama lain, memberikan pelukan hangat kepada anak, serta mempererat tali ukhuwah dengan tetangga sekitar akan menumbuhkan rasa kebersamaan. Dengan memadukan kesiapan fisik, kehati-hatian dalam menyerap informasi, serta keteguhan iman, insya Allah diri dan keluarga tidak hanya mampu bertahan melewati bencana, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan penuh empati.
