Oleh: Triatno Y.P, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si (Konsultan Senior Integritas Psychology Center)
Hari Anak Nasional 2026 memiliki tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Mungkin saja tema ini berkaca dari Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 yang menemukan hal mengkhawatirkan. Dari seratus anak usia 13 sampai 17 tahun, ada delapan belas anak yang pernah mengalami kekerasan. Yang lebih memprihatinkan, sering kali kekerasan justru terjadi di dalam keluarga, bahkan dari orang tua sendiri. Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anak. Fakta ini menunjukkan bahwa perlindungan anak tidak cukup bergantung pada aturan hukum saja. Perlindungan anak harus dimulai dari pemahaman bersama untuk melakukan perbaikan di dalam rumah.
Dalam psikologi, cara orang tua melindungi anak dari kekerasan sering bergantung pada seberapa dekat hubungan emosional anak dan orang tua, serta emosi yang stabil dari orang tua. Anak yang merasa diterima dan didengarkan lewat secure attachment atau hubungan yang aman biasanya tumbuh dengan percaya diri dan memiliki mental yang kuat. Di sisi lain, kekerasan pada anak biasanya terjadi karena orang tua merasa sangat lelah mengurus anak (parenting burnout), bukan karena orang tua tidak sayang anak. Saat orang tua tidak bisa mengontrol emosi, masalah sehari-hari tidak jarang justru dilampiaskan kepada anak. Anak jadi sasaran kemarahan, padahal anak tidak sedang melakukan kesalahan.
Islam mengajarkan bahwa anak adalah titipan dari Allah SWT yang akan diminta pertanggungjawabannya kelak. Rasulullah Muhammad SAW bahkan memberi contoh terbaik dalam mengasuh dengan kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua” (HR. Tirmidzi). Islam tidak membenarkan kekerasan dalam rumah tangga. Keluarga perlu membuat rumah menjadi tempat yang nyaman dan penuh kasih. Rumah seharusnya tidak menjadi tempat yang menakutkan.
Last but not least, orang tua harus punya kesadaran spiritual dan pemahaman psikologi agar rumah tetap aman buat anak-anak. Kesadaran spiritual membuat orang tua ingat bahwa membesarkan anak itu tugas besar yang mereka jalani di hadapan Allah SWT. Sedangkan pemahaman psikologi menjadikan orang tua tahu cara mengatur stres dan menghindari pengasuhan keras yang mungkin pernah mereka alami. Jika kehangatan emosional dan nilai agama ada di rumah, keluarga menjadi tempat yang tenang, serta mampu menjaga anak agar tidak mengalami kekerasan. Selamat memperingati Hari Anak Nasional!
