Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si (Owner dan Konsultan Senior Integritas Psychology Center)
Tidak sedikit ayah di zaman modern yang terjebak dalam peran lama, menjadi penyedia finansial (financial provider) tanpa berperan sebagai penyedia kehangatan emosional (emotional provider). Jika kita menelusuri kembali lembaran sejarah, Nabi Ibrahim AS muncul sebagai sosok teladan yang melintasi zaman. Dari kacamata psikologi keluarga dan studi keayahan (fatherhood), Nabi Ibrahim AS bukan sekadar orang yang patuh pada perintah agama. Nabi Ibrahim AS adalah ayah yang mengubah cara. Di tengah kultur patriarki yang dominan, Ibrahim AS menampilkan keayahan lembut, berdialog, dan didasari ikatan emosional sehat (secure attachment).
Hal pertama yang membuat Nabi Ibrahim AS hebat adalah kemampuannya memberi kehadiran hati meski jarak jauh (emotional presence). Kerasulannya memaksa Ibrahim AS berpindah‑pindah, meninggalkan Ismail kecil di lembah kering Mekah. Keluarga mengerti bahwa hubungan yang didukung ketersediaan emosional (emotional availability) lebih kuat daripada kehadiran fisik yang kosong. Ibrahim AS menutup jarak dengan kualitas hubungan yang tinggi saat mereka bertemu. Saat Ibrahim kembali menemui Ismail yang kini remaja, tidak ada rasa canggung di antara mereka. Sehingga saat mereka berpisah, yang ada adalah doa dan memori yang manis.
Puncak kehebatan Ibrahim AS Sang Ayah Hebat terlihat ketika Allah SWT memberi perintah untuk menyembelih Ismail. Sebagai ayah dan utusan Tuhan, Ibrahim AS punya kuasa penuh untuk melaksanakan perintah itu secara langsung. Tapi Sang Ayah Hebat itu memilih cara dialog terbuka, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”. Pertanyaan Nabi Ibrahim ini menunjukkan rasa hormat tinggi orang tua pada kebebasan anak seraya membuka ruang diskusi. Pola asuh yang menghargai pendapat anak menghasilkan respons Ismail yang tenang dan ikhlas. Demikianlah, anak yang terbiasa didengar akan menumbuhkan kemampuan mendengarkan dengan penuh hormat.
Sang Ayah Hebat Ibrahim AS tidak hanya mengandalkan dialog, melainkan juga memakai metode aktivitas bersama (shared activity) untuk menciptakan kedekatan (bonding) yang kuat. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim AS dan Ismail bekerja bahu‑membahu membangun kembali Ka’bah. Menurut psikologi perkembangan, aktivitas fisik yang produktif antara ayah dan anak laki‑laki menjadi cara utama untuk transfer nilai (value transmission), menanamkan etos kerja, dan menyelaraskan visi hidup. Saat Ibrahim AS dan Ismail menata batu satu per satu, Ibrahim AS dan Ismail tidak hanya membangun Ka’bah secara fisik melainkan juga membentuk karakter Ismail. Momen intim ini memberi Ismail AS kesempatan melihat langsung figur ayahnya bekerja keras.
Selain itu, Ibrahim AS memiliki visi keayahan jangka panjang yang menyentuh generasi. Sang Ayah Hebat Ibrahim AS tidak hanya memikirkan masa depan anak‑anaknya sampai mandiri atau menikah. Beliau AS bahkan berdoa bagi keturunannya yang belum lahir agar menjadi orang yang menegakkan salat. Demikianlah visi besar Sang Ayah Hebat Ibrahim AS pada akhirnya membuat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi dengan ketahanan diri (resilience) luar biasa.