Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si*
Belakangan ini, linimasa kita riuh dengan berita grup WhatsApp (WAG) mahasiswa yang berisi percakapan tidak pantas dan menjurus pada pelecehan seksual verbal. Tentu, konsekuensi hukum adalah porsi para ahli dan pihak berwenang terkait. Namun, ada pertanyaan yang mungkin mengusik sebagian kita, mengapa mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi bisa seperti kehilangan empati?
Jika kita melihat hal ini dari kacamata psikologi keluarga, jawabannya sering kali membawa kita pada satu sosok di rumah, yaitu ayah. Ya benar, ayah. Mengapa ayah? Sebagian kita mungkin pernah mendengar istilah keterlibatan ayah (father involvement). Dalam Islam, peran ini sejalan dengan konsep ayah sebagai pemimpin atau qawwam. Namun perlu kita pahami bahwa keterlibatan ini mencakup kehadiran emosional, bukan sekadar sosok ayah yang ada secara fisik atau menafkahi setiap bulan.
Ayah sejatinya adalah “kompas moral” pertama bagi seorang anak laki-laki. Lewat sosok ayahlah, seorang anak belajar bagaimana seharusnya memperlakukan perempuan. Saat ayah aktif terlibat dengan memberikan keteladanan, ia sedang mengirimkan pesan kuat. Bahwa menjadi laki-laki yang hebat adalah dengan memiliki integritas. Bukan dengan mendominasi atau menjadikan perempuan sebagai objek.
Rasulullah SAW pernah bersabda: “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya” (HR. At Tirmidzi). Dan memang Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam menghormati perempuan, Beliau SAW juga merupakan sosok yang paling lembut terhadap keluarganya. Maka ketika ayah hadir mengambil keteladanan ini, anak laki-laki akan memahami bahwa perempuan adalah manusia yang punya martabat, bukan justru bahan bercandaan di grup WhatsApp yang tertutup sekalipun.
Mungkin Anda bertanya, “Kenapa di antara mereka tidak ada yang berani menegur saat temannya mulai melecehkan?” Di sinilah pentingnya konsep diferensiasi diri. Sederhananya, ini adalah kemampuan seseorang untuk tetap teguh pada prinsip pribadinya meski sedang ditekan oleh lingkungan sebayanya (peer pressure). Di sinilah peran ayah menjadi perisai emosional. Ayah yang terbiasa membangun dialog terbuka akan membantu anak memiliki kepercayaan diri yang utuh. Anak yang “kenyang” akan apresiasi dan nilai-nilai dari ayahnya tidak akan butuh validasi murahan dengan cara merendahkan orang lain demi dianggap “jantan” atau “keren” di mata teman-temannya.
Kadang, anak muda merasa bahwa apa yang diketik di layar ponsel hanyalah “candaan” yang tidak punya konsekuensi nyata. Inilah yang kita sebut dengan pelepasan moral. Di sinilah peran ayah masuk untuk memberikan batasan (boundaries) yang sehat, di antaranya dengan menanamkan konsep muroqobatullah, kesadaran bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan, termasuk setiap ketikan di dalam grup WhatsApp yang paling tertutup sekalipun. Melalui teladan ayah dalam bertutur kata dan bersikap, anak belajar bahwa kehormatan seseorang tidak berubah hanya karena kita berpindah ke ruang digital. Ayah yang mendampingi tumbuh kembang moral anak akan membantu mereka memahami bahwa setiap ketikan punya dampak, dan setiap orang di balik layar tersebut tetaplah manusia yang layak dihormati.
Tanpa berniat menghakimi siapapun, peristiwa ini sebenarnya adalah sebuah “alarm” bagi kita semua, para orang tua. Bahwa pembentukan karakter dan empati akan selalu bermula di rumah kita. Selain itu penting diingat oleh setiap orang tua, bahwa tugas kita bukan hanya membesarkan anak yang pintar secara akademik, namun juga mengarahkan mereka untuk jadi pribadi yang memiliki empati.
*Penulis merupakan Konsultan Keluarga & Pasangan
Info grafis generated by AI
