• Phone: 087887551055
  • E-mail: contact@integritas.id

Your Trusted Psychological Partner
  • Home
  • Konseling Online
  • Jenis Layanan
  • Profil Konsultan
  • Tentang Kami
  • Artikel

Menjadikan Ramadhan Sebagai “Love Language” Orang Tua

Oleh: Triatno Y. Prabowo, M.Psi, Psikolog dan Isra Yeni, M.Si*

Ramadhan merupakan momen istimewa di mana dimensi langit dan bumi bertemu dalam harmoni di rumah. Bagi orang tua, selayaknya bulan ini bukan sekadar tentang mengejar target ibadah personal seperti khatam Al Qur’an atau shalat tarawih, melainkan juga sarana untuk memanifestasikan kesalehan melalui pengasuhan. Islam sejatinya memandang ibadah ritual dan akhlak kepada keluarga adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Demikian halnya dengan psikologi modern mengamini bahwa momen-momen spiritual yang dilakukan bersama dengan penuh kehangatan akan menjadi “jangkar emosional” bagi anak. Dengan menjadikan Ramadhan sebagai love language atau bahasa cinta, sesungguhnya orang tua tengah menjalankan ibadah dengan berbakti kepada Allah sekaligus menumbuhkan keimanan pada anak melalui cinta kasih.

Ramadhan penuh dengan syariat yang dapat dijadikan “panggung” waktu berkualitas (quality time) orang tua kepada anak. Sebagai contoh sahur dan berbuka puasa, saat keluarga berkumpul di meja makan adalah momen emas untuk bonding atau membangun kelekatan orang tua dengan anak. Psikologi menjelaskan bahwa kehadiran penuh (mindfulness) orang tua di saat-saat ini merupakan bentuk penghargaan tertinggi bagi anak. Sementara Islam menyebutnya sebagai bagian dari rahmah, di mana sifat Allah SWT tercermin dari kelembutan orang tua kepada anak. Rasulullah SAW juga telah memberi teladan, betapa ibadah shalatnya tidak menghalangi untuk tetap menunjukkan kasih sayang kepada cucu-cucunya.

Menjadikan Ramadhan sebagai bahasa cinta juga dapat dilakukan dengan menyisipkan kata-kata positif (words of affirmation) dalam setiap proses belajar anak. Saat orang tua memberikan dukungan penuh kasih atas usaha anak berpuasa, mereka sebenarnya sedang menjalankan peran sebagai murabbi (pendidik) yang bersandar pada kelembutan atau ar rifqu. Ada temuan menarik dalam psikologi bahwa kecerdasan emosional anak dapat menguat ketika orang tua memvalidasi perasaan anak di saat-saat sulit, seperti saat anak merasa lemah menunggu berbuka. Di sisi lain, orang tua yang mampu bersabar saat menghadapi dinamika anak yang berpuasa Ramadhan akan menjadi amal saleh sekaligus sarana pengendalian diri. Di titik inilah, ada pertemuan indah antara tuntutan syariat untuk bersabar dan kebutuhan psikologis anak akan keamanan emosional.

Pada akhirnya, orang tua yang menjadikan Ramadhan sebagai love language akan menjadikan anak memiliki memori spiritual yang membahagiakan. Ingatan ketika ibadah tidak lagi dirasakan anak sebagai beban atau rangkaian aturan yang kaku, melainkan juga sebagai momen ketika ayah dan bundanya memberikan perhatian, kehangatan, dan kasih sayang. Bahkan juga ingatan ketika orang tua sedang mengajari mereka bahwa mencintai Allah SWT dimulai dengan merasakan cinta di dalam rumah. Dengan menyandingkan semangat ibadah dan kehangatan pengasuhan, Ramadhan akan membekas di ingatan anak sebagai bulan berdampingannya antara cinta orang tua dan keberkahan Allah SWT. Inilah dakwah paling sunyi namun paling efektif, yakni mengajak anak mencintai agama melalui pelukan dan keteladanan yang mereka rasakan setiap hari.

*Konsultan Keluarga & Pasangan

Previous
Next

Artikel

  • Icefish And The Chuck Norris Effect
  • Da Para Apostar Na Mega Da Virada Online
  • How Does Social Media Affect Our Notion Of Reality Essay2023-05-28
«
Prev
1
/
47
Next
»
loading
play
SOS (Sesi Online Sharing) Spesial Hari Ayah
play
Boleh Cemburu???
«
Prev
1
/
47
Next
»
loading
VMS Technology
WhatsApp us